Showing posts with label semut kayap. Show all posts
Showing posts with label semut kayap. Show all posts

2/11/13

Game tomcat yang lucu

Mungkin bagi teman-teman yang suka main Game Online pasti sudah tidak asing lagi dengan permainan yang satu ini, kita bisa menemukannya hampir di semua web online games yaitu Tomcat atau Talking Tom Cat XALJ yang bisa dimainkan untuk semua ponsel S60v5, S^3 Anna Belle, Android, BlackBerry dan semua ponsel lainnya yang sudah mendukung fitur Flash Player.

Selain itu bagi para pengguna PC / Laptop juga bisa memainkannya dengan bantuan Aplikasi Pemutar Flash atau bisa juga dibuka lewat Browser yang sudah instalasi flash player di dalamnya, cara memainkannya cukup mudah tinggal arahkan pointer mouse ke bagian-bagian tertentu dari badan si Tomcat kemudian di klik.

Silahkan download lewat link di bawah buat teman-teman yang ingin mencobanya, yang pasti game tomcat ini mempunyai keunikan dan perbedaan tersendiri dan tidak kalah lucunya dengan Game Online yang ada di internet.

Talking Tomcat (flash).swf (5.8 MB

3/31/12

Tomcat ingin lihat monas, datang ke jakarta ??

Dinas Kelautan dan Pertanian Pemerintah Provinsi (DKP Pemprov) DKI Jakarta, meneliti serangga tomcat, yang ditemukan di sejumlah perkantoran dan pemukiman warga.

Kepala Dinas Kelautan dan Pertanian Provinsi DKI Jakarta, Ipih Ruyani, menjelaskan dibeberapa lokasi seperti di gedung Aldevco Octagon, Kalibata, Pancoran, Jakarta Selatan, petugas DKP menemukan serangga yang terindentifikasi sebagai tomcat.

"Setelah dilakukan peninjauan ke lokasi didapati 1 ekor serangga yang teridentifikasi serangga tomcat dan dilanjutkan dengan identifikasi di laboratorium di Balai Proteksi Tanaman Provinsi DKI Jakarta," ujar Ipih, Jumat (30/3/2012).

Namun dari hasil penelitian di sekitar lokasi tersebut tidak ditemukan serangga atau sumber populasi lainnya, sehingga disimpulkan bahwa serangga tersebut terbawa dari tempat lain melalui angin, atau media lainnya.

Selain ditempat tersebut, serangan Tomcat juga ditemukan di Kelurahan Pisangan Baru RT 03 RW 07, Pulo Gadung Jakarta Timur. Di lokasi ini, petugas tidak menemukan serangga. "Namun ada tamu warga yang berasal dari Pekalongan terserang penyakit dengan gejala mirip dengan serangan tomcat," katanya.

Serangga Tomcat juga telah ditemukan di Kedutaan Besar Korea yang beralamat di Jalan Imam Bonjol, Jakarta Pusat, dan saat ini sudah diamankan oleh petugas security untuk dilanjutkan identifikasi oleh petugas BPT.

Sementara lokasi terakhir ditemukan serangga ini adalah di lahan kosong yang diperuntukkan untuk pembangunan Apartemen West One City, dimana ditemukan 1 ekor tomcat dan melukai seorang satpam penjaga lahan tersebut dan sudah diobati di Puskesmas terdekat

Serangan Tomcat di belahan dunia

Meski kecil seperti semut -- panjang sekitar 7-8 milimeter-- serangga merah-hitam ini jangan dianggap enteng. Tercatat, ribuan orang di dunia kapok “dikerjain” makhluk pecinta cahaya lampu ini. Nama latin serangga itu Paederus riparius,  di tubuhnya  mengandung racun Paederin (C24 H43 O9 N). Di Indonesia dia disebut Tomcat, mungkin kalau berjalan ekornya terangkat sehingga mirip pesawat tempur F-14 Tomcat. Di Malaysia, serangga ini disebut Semut Kayap.

Sebetulnya serangga ini tak menggit, atau pun menyengat. Yang berbahaya cairan racun di tubuhnya itu. Jika terpencet, maka racun berkonsentrasi 12 kali lebih tinggi dari bisa ular Kobra, akan menimbulkan radang di kulit, gatal, panas dan melepuh. Kedokteran menyebutnya sebagai paederus dermatitis. Repotnya, jika tak segera ditangani ruam itu bengkak, dan terkadang bernanah. Kalau digaruk, dan bentolan itu pecah, maka racunnya akan menyebar ke tempat lain. Ruam akan hilang dalam waktu 10-12 hari, dan meninggalkan bekas di kulit.

Satu artikel di South African Medical Journal, Agustus 2011, menyebut wabah ini telah ada sejak permulaan sejarah. Bahkan, menurut tulisan di jurnal ini, wabah ketiga dan keempat di Mesir yang disebutkan di Alkitab pada Surat Keluaran di Perjanjian Lama diyakini adalah ruam karena racun Tomcat.

Wabah Tomcat, menurut jurnal itu, pertama kali tercatat terjadi di Afrika pada 1915 dan berhasil terdokumentasikan di Afrika Timur pada 1916. Serangga yang juga disebut Lalat Nairobi ini juga menyerang Kinshasa, Kongo, pada 1921. Lalu Freetown, Sierra Leone, pada 1925. India diserang Tomcat pada 1933, Sudan pada 1958, Malawi dan Namibia pada 1962.

Pada 2002, serangga ini beraksi di Penang, Malaysia. Ribuan orang penghuni apartemen dan asrama mahasiswa di Penang terkena dermatitis. Pada 2008, epidemi Tomcat terjadi di wilayah sama, menyerang 156 orang di Tanjung Bungah dan Praya Terubong, serta desa Wawasan di Sungai Rambai, Permatang Pauh dan Bagan Lalang. Epidemi Tomcat di Penang terjadi di wilayah yang dikelilingi sawah dan di lapangan sekolah. Tomcat senang cahaya lampu, itulah yang membuat serangga kecil ini kerap berkerubung di daerah terang.
Biasanya, serangga ini hidup di daerah kering, semisal persawahan atau lapangan. Ketika hujan turun dan menyebabkan air menggenang, Tomcat bermigrasi ke tempat kering dan hangat: rumah warga.

Pada 2009, epidemi Tomcat juga pernah dialami ratusan pekerja pabrik mainan di kota Chibi, China, 2009 silam. Menurut data Pusat Informasi Bioteknologi Nasional Amerika Serikat, dari 316 pekerja di pabrik, 68 menderita paederus dermatitis, dengan ruam merah di sekitar wajah dan leher. Pemerintah China menurunkan tim medis dan para ahli parasit dari Fakultas Parasitology, Universitas Huazhong di Wuhan. Mereka mendata dan mencari tahu lingkungan hidup Tomcat, dan asal usul wabah itu. Para ahli menemukan, lokasi pabrik yang terang, lembab dan kotor membuat Tomcat betah singgah di pabrik itu.

Di Iran, koloni serangga yang agak malas terbang ini sempat berulah di Priovinsi Gulian, utara Iran. Selama enam bulan pada 2001, sebanyak 156 orang di provinsi itu dilaporkan menderita ruam akibat Paederin. Puncak epidemi terjadi pada September tahun itu. Ada 15 persen pasien mengalami diffuse deskuamasi atau pengelupasan kulit merata, terutama di wajah dan leher. Kebanyakan penderita hidup di radius 1 km dari sawah, dan memakai penerangan lampu neon di rumah mereka.  Pada 2001 itu, Iran pertama kali mencatat kasus Tomcat. Sebelumnya, Guilan diserang Tomcat setiap tahun. Terutama di musim panas dan semi.

Di India, Tomcat pernah membayangi warga selama setahun di wilayah Tamilnadi, India Selatan, saat musim kemarau panjang. Sedikitnya 123 pasien radang kulit dilaporkan petugas medis setempat. Kebanyakan penderita mahasiswa terkena racun serangga itu di asrama mereka, yang berada di dekat sawah.

Menyerang tentara ASRatusan tentara AS pernah dibuat repot oleh serangga ini. Departemen Dermatologi dari Pusat Medis Angkatan Laut San Diego dan Universitas California, dikutip dari Medscape News, menyebutkan banyak tentara AS terkena dermatitis saat mereka bertugas di Timur Tengah. Militer AS bahkan menyamakan radang kulit akibat ulah oleh Tomcat serupa efek senjata kimia yang dilarang digunakan berperang, di antaranya mustard gas, lewisite dan herpes zoster.

Pada 2001, dilaporkan ada 191 tentara, sekitar 10 persen dari tentara Operation Enduring Freedom, terjangkit radang kulit saat bertugas di Pakistan. Sebanyak 30 pasukan khusus AS di Afganistan mengalami ruam kulit akibat Tomcat pada 2002. Pada 2007, giliran 20 tentara di pangkalan militer Balad, Irak, terkena gatal akibat ulah Tomcat. Dermatitis biasanya menyerang tentara yang bekerja malam hari. Terutama serdadu yang berdiri dekat cahaya lampu. Mereka kerap dihinggapi serangga ini, dan tiba-tiba merasakan sensasi terbakar di wajah dan leher. Ruam yang dialami awalnya berbentuk bulatan, dan kemudian membesar, menyebar di kulit. Setelah 7-10 hari, ruam sembuh, tapi meninggalkan bekas putih. Pasukan AS pun menyemprotkan insektisida mengandung permethrin di wilayah epidemi. Mereka tidur memakai jaring nyamuk, mengoleskan obat anti serangga, dan menghindari tempat lembab yang disukai Tomcat. Cara lain: mengganti lampu dari neon ke berbahan sodium atau lampu halogen. Dua jenis lampu itu bersinar kuning dan oranye, dan Tomcat tak doyan warna itu.

Baik bagi tanaman
Meskipun Tomcat merugikan bagi kesehatan manusia, tapi serangga ini menguntungkan bagi tanaman ladang.  Usia Tomcat lumayan singkat, 40-60 hari. Saat usia dewasa, dia menjadi predator karnivora. Sebuah situs informasi perkebunan Amerika Serikat, basic-info-4-organic-fertilizers.com, bahkan memberikan saran bagaimana memancing serangga Tomcat agar bersarang di kebun. "Untuk memancing serangga ini ke kebun anda, tinggalkan sebidang tanah yang belum dibajak dan penuh rumput," tulis situs itu.

Serangga ini sangat aktif, dan bergerak sangat cepat. Walaupun bersayap, mereka lebih suka merayap di tanah, mencari mangsa. Makanya, serangga ini menjadi agen pengendali hama biologis di ladang dan sawah sejak 1919. Tomcat menyantap segala macam serangga kecil, atau bakal serangga. Di antara pakannya adalah kutu, larva dan telur lalat, larva ngengat, siput, dan belatung, kesemuanya adalah hama bagi tanaman sayur, seperti kol dan bawang bombay.

Selain berguna mengendalikan hama tanaman, kehadiran Tomcat menjadi indikasi seberapa baiknya upaya pemulihan hutan. Beberapa ahli di Universitas Alberta, Kanada, meneliti dengan menggunakan Tomcat sebagai indikatornya. Berdasarkan penelitian, pasca penggundulan hutan atau lahan, jumlah serangga Tomcat menurun drastis. Ketika masa pemulihan, serangga Tomcat tak mencapai jumlah maksimal seperti sebelumnya.

Ini menunjukkan usai penggundulan, hutan tak pernah sepenuhnya pulih seperti semula, meskipun hutan baru punya lebih banyak keragaman hayati. “Studi ini sangat penting. Hutan baru tak akan punya biota sama seperti hutan lama. Kita harus memastikan penanaman hutan kembali dengan baik dan terencana," kata Profesor John Spence, dari Universitas Alberta.

3/23/12

Tomcat Serang Tasikmalaya

Perumahan Griya Aboh, Sukamulya, Bungursari, Kota Tasikmalaya, kini mulai khawatir terkait serangan serangga Tomcat yang terus menyebar.

Sementara pihak dinas kesehatan turun ke lapangan hanya mendata korban dan memberi penyuluhan penanganan jika terserang Tomcat.

Serangan serangga tomcat terus terjadi setiap hari di perumahan ini. Warga hanya bisa membersihkan serangga Tomcat dari dinding dan lantai dengan cara menyapunya.

Menurut Mila (36), salah seoang warga, ribuan Tomcat datang pada malam hari dari pesawahan belakang perumahan. Dinas terkait sudah membawa sampel Tomcat ke Bandung untuk diteliti guna menentukan jenis pestisida yang tepat. Dan rencananya petugas akan melakukan penyemprotan secepatnya.

Sementara petugas dari puskesmas setempat melakukan pendataan kepada para serangan Tomcat. Pendataan dilakukan kepada enam rumah yang penghuninya jadi korban serangan Tomcat. Petugas juga melakukan penyuluhan tentang penanganan medis jika terserang Tomcat.

Akibat terkena serangan Tomcat, kulit menjadi gatal, merah, panas dan akhirnya bernanah. Serangga Tomcat ini bukan hanya menyerang orang dewasa, namun anak-anak dan balita.

Tomcat Tak Menggigit, Sentil Saja kalau Hinggap

Ahli alergi dan imunologi dari Departemen Ilmu Kesehatan Anak pada Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) Surabaya, Dr dr Anang Endaryanto SpA(K), menyarankan cara mudah menghadapi tomcat.
Tak perlu khawatir dengan serangan tomcat. Sebab, pada dasarnya serangga tersebut tidak menyerang manusia secara langsung.

"Tomcat itu tidak menggigit, tapi hanya menempel. Karena itu, kalau dia hinggap cukup disentil saja, lalu bekas hinggapnya dibersihkan. Yang penting, jangan dipukul atau dipencet, karena cairan yang dikeluarkan bisa bersifat hypersensitive," katanya di Surabaya, Rabu (21/3/2012).

Cairan hypersensitive yang dikeluarkan tomcat itu dapat menimbulkan reaksi yang merugikan pada manusia karena mengakibatkan alergi, nyeri, kemerahan, gatal, dan bahkan hingga menyebabkan penderitanya mengalami radang akibat iritasi dan demam.
Ia menegaskan bahwa cairan yang dikeluarkan tomcat itu bersifat asam. Karena itu, dapat dinetralkan dengan zat yang bersifat basa, seperti sabun mandi.

"Tapi, cara yang paling baik adalah disentil, lalu bekas hinggap dari tomcat itu dibersihkan dengan sabun," katanya.
Sementara itu, Direktur RSUD dr Soetomo Surabaya dr Dodo Anondo MPh menyatakan, Kepala Dinas Kesehatan Jatim dr Budi Rahayu sudah membentuk tim khusus untuk penanganan serangan tomcat itu.
"Masyarakat tidak perlu resah karena serangan serangga tomcat itu sudah rutin setiap tahun," katanya.

Menurut mantan Direktur RSUD Madiun itu, tomcat menjadi terkenal saat ini akibat alat komunikasi yang sekarang cukup canggih. Selama ini, serangga tersebut hidup di sawah-sawah dan daerah yang lembab membantu petani untuk memakan hama wereng cokelat.

Namun, pada musim tertentu populasi bertambah sehingga menjangkau permukiman manusia. Korban tomcat pun mencapai lebih dari 100 orang di Surabaya dan dilaporkan di 13 kecamatan. Ke-13 puskesmas di Surabaya yang merawat pasien tomcat yaitu Puskesmas Keputih, Kenjeran, Mulyorejo, Pakis, Medokan Ayu, Pacar Keling, Sidotopo, Rangkah, Sawahan, Wiyung, Kebonsari, Sememi (Benowo), dan Putat.

Manfaat Tomcat Bagi Kehidupan

Kepala Dinas Pertanian Perikanan dan Kehutanan Kabupaten Kudus, Budi Santoso, mengungkapkan serangga jenis Paederus fuscipes atau kumbang Tomcat memberikan manfaat bagi petani, karena bisa dijadikan sebagai predator bagi hama wereng.

"Bahkan, hama lain yang sering mengganggu komoditas tanaman padi juga bisa dikurangi dengan memanfaatkan serangga tersebut," ujarnya di Kudus, Rabu. Untuk itu, kata dia, masyarakat tidak perlu membasmi serangga tersebut, karena bisa dimanfaatkan di bidang pertanian.

Pembasmian serangga ketika muncul hingga ke pemukiman penduduk, katanya, memang diperlukan, karena cukup meresahkan masyarakat, terutama ketika terkena cairan yang keluar dari tubuhnya sebagai bentuk pertahanan diri hewan tersebut.

Ketika hewan tersebut menempel di kulit, katanya, tidak perlu dibunuh seketika, melainkan cukup diusir agar tidak sampai mengeluarkan cairan ketika menempel di kulit agar tidak terkena iritasi.

"Dampak yang ditimbulkan bukan akibat gigitan, melainkan karena keluarnya cairan dari hewan tersebut kemudian menempel di kulit yang menyebabkan terjadinya iritasi, seperti menyebabkan kulit menjadi panas, memerah serta menimbulkan benjolan yang terasa perih," ujarnya.

Ia mengimbau, masyarakat yang menjumpai serangga tersebut, lebih aman menghindarinya agar tidak terjadi kontak dengan kulit. Meskipun memberikan manfaat di bidang pertanian, katanya, petani tetap harus waspada agar tidak terkena cairan dari serangga tersebut, yang saat ini cukup heboh di masyarakat.

Musim yang tidak menentu seperti sekarang, katanya, berpotensi terjadinya serangan hama wereng, sehingga petani harus rajin membersihkan tanamannya dari hama tersebut agar tidak berkembang biak.

Sementara itu, salah seorang petani asal Desa Undaan Kidul, Kecamatan Undaan, Kudus, Hadi Sucahyono mengaku, belum pernah memanfaatkan serangga tersebut sebagai predator bagi hama wereng.

"Jika memang memberikan manfaat, tidak ada salahnya dilakukan penelitian lebih lanjut agar bisa meringankan petani dalam membasmi hama wereng," ujarnya.

Tomcat Serangga Mungil Mengandung Racun Berbahay

Tomcat Serangga Mungil Mengandung Racun Berbahaya : Baru baru ini serangan serangga Tomcat memakan ratusan korban penghuni perumahan dan apartemen di Surabaya. Jika kulit mengalami kontak dengan serangga ini, timbul sensasi terbakar yang kemudian menjadi kemerahan disertai munculnya nanah di bagian tengah dalam beberapa hari.

Tomcat (latin: Paederus riparius) sekilas seperti serangga tak berbahaya. Tapi, siapa sangka serangga kecil berwarna merah-hitam ini memiliki racun 12 kali lebih kuat daripada racun ular kobra. Tubuh kumbang ini berukuran 7-8 mm, dikenal juga sebagai semut kanai atau semut kayap ini, mengandung toksin paederin. Di masa lalu, racun yang menyebabkan luka bakar pada kulit manusia ini digunakan untuk membakar kutil.


Bila ada kumbang kanai yang hinggap di kulit, jangan mematikannya di tubuh, namun tiup hingga pergi. Jika kulit mengalami kontak dengan serangga ini segera cuci bagian yang terkena dengan air dan sabun. Jangan menggaruk luka, karena racunnya bahkan dapat berpindah ke bagian lain kulit

Kenali tentang Serangga Tomcat

Semut Semai[2] atau Serangga Tomcat (nama ilmiah: Paederus littoralis), disebut pula Kumbang Rove[3] (Rove Beetle) atau dengan nama daerah Semut Kayap[4] atau Charlie[5] di Indonesia, adalah kelompok utama dari hewan beruas (Arthropoda) yang termasuk dalam keluarga besar Kumbang (Staphylinidae), terutama dibedakan oleh panjang pendeknya penutup pelindung sayap ("sayap berlapis") yang meninggalkan lebih dari setengah dari perut mereka terbuka. Dengan lebih dari 46.000 spesies dalam ribuan generasi, kelompok ini adalah keluarga kedua terbesar kumbang setelah Curculionidae (kumbang yang sebenarnya). Serangga ini termasuk kelompok serangga kuno, dengan fosil serangga tomcat diketahui dari Jaman Triassic atau pemusnahan Mahluk Hidup di Bumi, 200 juta tahun lalu.

Seperti bisa diduga untuk suatu keluarga kumbang yang besar, terdapat variasi besar di antara spesies ini. Ukuran berkisar antara 1 hingga 35 mm (1,5 inci), dengan sebagian besar di kisaran 2-8 mm, dan bentuk umumnya memanjang, dengan beberapa serangga tomcat yang berbentuk bulat seperti telur. Badannya berwarna kuning gelap di bagian atas, bawah abdomen (perut) dan kepala berwarna gelap. Pada antena kumbang biasanya 11 tersegmentasi dan filiform, dengan clubbing moderat dalam beberapa generasi kumbang. Biasanya, kumbang ini terlihat merangkak di kawasan sekeliling dengan menyembunyikan sayapnya dan dalam pandangan sekilas ia lebih menyerupai semut. Apabila merasa terganggu atau terancam, maka kumbang ini akan menaikkan bagian abdomen agar ia terlihat seperti kalajengking untuk menakut-nakuti musuhnya.

Tomcat tidak mengigit ataupun menyengat. Tomcat akan mengeluarkan cairan secaraotomatis bila bersentuhan atau bersentuhan dengan kulit manusia secara langsung. Gawatnya, Tomcat juga akan mengeluarkan cairan racunnya ini pada benda-benda seperti baju, handuk, ataupun benda-benda lainnya. Pada jenis serangga tertentu, terdapat cairan yang diduga 12 kali lebih kuat dari bisa ular kobra[6]. Cairan hemolimf atau toksin ini disebut sebagai 'aederin' (C24H43O9N)[7]. Jika sudah terkena dermatitis, segera bersihkan seprei, sapu tangan, handuk, pakaian maupun benda-benda yang disinyalir terkena racun tomcat. Bersentuhan dengan kumbang ini saat berbaring atau tidur, menghancurkannya pada badan atau mengosok dengan jari yang kotor akan menyebabkan konjungtivitas dan penyakit kulit yang parah yang dikenali sebagai 'dermatitis linearis', 'aederus (kumbang rove/ staphylinidae) dermatitis'. Kalau melihat Tomcat hinggap di tangan, jangan dipencet atau dibunuh seperti mematikan nyamuk ataupun serangga kecil lainnya. Sebaiknya Tomcat ditiup hingga pergi, atau diambil dengan hati-hati menggunakan alat atau tangan yang ditutupi plastik dan dibuang ke tempat yang aman. Setelah itu cuci tangan dengan sabun dan ulangi lagi. Kalau bisa semprot serangga itu dengan racun serangga dan disingkirkan tanpa harus menyentuhnya secara langsung

Tutup jendela dan matikan lampu jika tidak digunakan karena Tomcat menyukai tempat-tempat yang terang. Jangan memakai pakaian yang terbuka untuk menghindari sentuhan langsung dengan Tomcat. Sebaiknya jendela diberi kasa nyamuk agar Tomcat tidak bisa masuk. Hati-hati jika memiliki anak kecil yang suka bermain di dekat tanaman dan singkirkan dari rumah apabila tanaman tersebut dalam kondisi tidak terawat karena dapat berpotensi menjadi sarang Tomcat.[8]

 Jika kulit terkena racun Serangga Tomcat segeralah mencuci bagian kulit yang terkena dengan menggunakan sabun, jangan diberi odol, minyak kayu putih, balsem, minyak tawon maupun bedak tabur karena hanya akan memperparah keadaan. Kulit yang terkena toksin Tomcat akan merah meradang mirip herpes tapi tidak sama. Pengobatannya menggunakan salep dan antibiotik. Biasanya hydrocortisone 1% atau salep betametasone dan antibiotik neomycin sulfat 3 x sehari atau salep Acyclovir 5%.[9] Peradangan juga dapat diredakan dengan mengkompres bagian kulit yang terkena racun dengan air dingin.